Senin, 27 Mei 2013

Analisis cerpen Bunga dari Ibu

TAHAPAN ALUR DALAM
CERPEN  “BUNGA DARI IBU” DARI KUMPULAN CERPEN KUPU-KUPU  BERSAYAP GELAP
KARYA PUTHUT EA


PENDAHULUAN
Cerpen yang berjudul “Bunga Dari Ibu” adalah sebuah cerpen karya Phutut Ea yang menarik untuk dianalisis.  Cerpen  ini tedapat pada kumpulan cerpen yang berjudul Kupu-Kupu Bersayap Gelap  terbitan tahun 2006 oleh penerbit INSIST Press. Dalam kumpulan cerpen tersebut terdapat sepuluh judul cerpen, yaitu Ibu Pergi ke Laut, Kupu-Kupu Bersayap Gelap, Kenanga, Benalu di Dada Mirah, Drama itu Berkisah Terlalu Jauh, Bunga dari Ibu, Rasa Simalakama, Pusara Kampung Kenanga, Gayung Plastik, dan Bocah-bocah Berseragam Biru Laut.

 Cerpen “Bunga dari Ibu” menceritakan tentang tokoh aku yang tidak boleh terlalu sering mengunjungi ibu karena terlalu banyak biaya, maka ibu memberikan sebuah pot berisi tanaman bunga. Katanya jika ingin mengetahui keadaan ibu maka lihat saja bunga itu. Lalu bunga itu kurawat dan kusayangi dengan baik-baik. Ternyata bunga itu benar-benar bisa mengatakan keadaan ibu. Saat aku melihat tanaman bunga dari ibu rontok,  aku langsung menelpon ibu dan ternyata ibu sedang sakit flu.
            Saat tanaman bunga dari ibu bermekaran, aku ditelpon ibu lalu ibu menelponku dan mengabarkan bahwa ia  mendapat hadiah dari bank tempatnya menabung. Ketika suatu hari aku lupa memeriksa bunga dari ibu, Ibu kemudian menelponku dan tahu bahwa aku lupa memeriksa tanamannya, lalu ia mengatakan akan naik haji. Tentu saja aku langsung memeriksa bunga itu, dan benar tanaman bunga dari ibu seperti dikerudungi cahaya. Hubungan aku dan ibuku sangat unik, belajar dari semua itu aku juga memberikan tanaman bunga untuk ibuku sebagai tanda juga tentang apa saja yang kuhadapi selama jauh dari ibu. Saat aku dipromosikan di jabatan, ibu lalu menelponku pagi-pagi benar dan mengatakan bahwa tanaman dariku, bunga-bunganya sedang bermekaran. Saat aku putus cinta dan berpikir keras apakah aku harus menggugurkan kandunganku karena Mas Rustam kekasihku, terganggu bila aku mengandung. Lalu ibu tiba-tiba menelponku dan mengabarkan bahwa bunga dariku seperti layu dan hampir mati.
            Aku mengatakan tidak ada apa-apa, padahal selama ini diantara kami tidak pernah ada rahasia. Bahkan ibu tau semua tentang kisah cintaku. Namun untuk hal ini, aku bohong kalau aku menggugurkan kandunganku. Ibuku orangnya aneh namun baik hati. Aku dibesarkan di keluarga yang sudah bercerai, namun hubunganku dengan mereka tetap baik. Mereka berbeda agama. Ibuku rajin sholat dan Ayahku rajin pergi ke gereja. Walaupun demikian mereka tidak pernah memaksaku untuk memeluk satu agama. Hubunganku dengan mereka tetaplah hangat. Bahkan di masa-masa terberat aku kuliah, saat itu rezim orde baru, banyak demonstran dan diadakannya pemilu. Namun kami bertiga hanya berkumpul di rumah sambil makan dan menonton televisi. Kemudian kami saling berbincang-bincang politik tanpa harus ikut rusuh turun ke luar. Suatu hari tanaman bunga dari ibu seperti layu. Aku sangat cemas dan beregegas pergi ke rumah ibu, saat kutanya bagaimana keadaan Ibu, ia mengatakan baik-baik saja. Aku kecewa saat tanaman bunga dariku sudah dibuang oleh ibu. Katanya, tanaman bunga itu tidak bisa menjadi patokan keadaanku. Esoknya saat aku pulang ke rumah, aku segera mencabut tanaman bunga dari ibu. Dalam hati aku berkata, setiap orang boleh punya rahasia.
            Kumpulan Cerpen Kupu-Kupu Bersayap Gelap merupakan salah satu karya Puthut Ea. Selain karyanya ini, Puthut telah menerbitkan sejumlah kumpulan cerpen, antara lain Sebuah Kitab yang Tak Suci (Kumpulan Cerpen),  Dua Tangisan pada Satu Malam (Kumpulan Cerpen), Sarapan Pagi Penuh Dusta (Kumpulan Cerpen), Isyarat Cinta yang Keras Kepala (Album Prosa), Cinta Tak Pernah Tepat Waktu I, Cinta Tak Pernah Tepat Waktu II, dan Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali (Kumpulan Cerpen).
            Berdasarkan uraian tersebut penulis tertaik untuk mengangkat hal paling dasar untuk membedah makna sebuah karya sastra yaitu dengan menganalisis unsur-unsur pembangun sebuah karya sastra dalam hal ini penulis mengkhususkan pada analisis alur atau plot cerita. Cerpen yang berjudul “Bunga dari Ibu” memiliki banyak keunggulan antara lain  cerpen tersebut pernah termuat dalam koran Kompas, kisah yang diangkat pada cerpen tersebut sederhana tetapi sangat menyentuh dan menarik, bahasa yang digunakan mudah dipahami untuk berbagai kalangan masyarakat.

      KAJIAN  TEORI

                        Alur adalah pemaparan peristiwa dalam rangkaian atau urutan temporal atau kewaktuan. Alur fiksi hendaknya diartikan tidak hanya sebagai peristiwa-peristiwa yang diceritakan dengan panjang lebar dalam suatu rangkaian tertentu, tetapi juga merupakan penyusunan yang dilakukan oleh penulisnya mengenai peristiwa-peristiwa tersebut berdasarkan hubungan kausalitasnya (Sayuti, 2000: 30).
                        Alur memiliki tiga bagian utama, yaitu awal, tengah dan akhir. Dalam kaitannya, bagian awal menentukan bagian awal dari cerita. Ada beberapa hal penting dalam bagian awal yang harus diperhatikan, yakni kemungkinan-kemungkinan yang terkait dengannya. Pertama, bagian awal atau tepatnya alinea pertama sebuah fiksi boleh jadi merupakan pilihan terakhir yang dilakukan oleh pengarang. Kedua, peristiwa awal boleh jadi merupakan peristiwa yang terkait erat dengan karakter tokoh utama. Ketiga, peristiwa awal merupakan penggambaran khusus tentang konflik yang akan berbuntut pada peristiwa berikutnya. Keempat, bagian awal berupa sebuah peristiwa besar dalam latar tertentu dan ia mengandung konflik tertentu pula. Kelima, bagian awal merupakan suatu peristiwa yang kecil yang berguna untuk melukiskan watak tokoh dan untuk menginformasikan kepada pembaca dalam rangka memahami bagian awal dari cerita tersebut. Keenam, bagian awal merupakan introduksi tokoh utama atau tokoh yang dianggap penting dalam keseluruhan cerita. Ketujuh, bagian awal merupakan hal yang mengarahkan pembaca pada teknik yang dipakai, baik teknik diaan, akuan, atau campuran antar keduanya. Kedelapan, bagian awal merupakan deskripsi dan narasi tertentu. Kesembilan, bagian awal merupakan informasi tempat, waktu, sosial budaya tertentu. Kesepuluh, bagian awal merupakan komplikasi yang akan mengarahkan atau membangkitkan minat tertentu pada minat tertentu pada diri pembaca (Sayuti, 2000:40).
                        Bagian tengah dalam sebuah cerpen dapat dipandang sebagai awal bagian akhir sebuah cerpen. Jadi, kemungkinan-kemungkinan yang diperkirakan dapat menjadi awal cerita, sagat boleh jadi merupakan awal tengah. Disamping berisi eksposisi, bagian awal juga mengandung elemen ketidakstabilan yang memberi peluang adanya suatu pengembangan cerita. Elemen-elemen ketidakstabilan yang terdapat pada situasi awal itu kemudian mengelompok dengan sendirinya pada bagian tengah dan membentuk pola konflik (Sayuti, 2000:41).
Selain eksposisi, bagian tengah dalam alur juga berisi konflik dan komplikasi.Konflik dalam cerita bersumber pada kehidupan. Konflik biasanya dibedakan menjadi tiga jenis. Pertama, konflik dalam diri seorang (tokoh). Konflik jenis ini juga sering disebut psychological conflict ‘konflik kejiwaan’ yang biasanya berupa perjuangan seorang tokoh dalam melawan dirinya sendiri, sehingga dapat mengatasi dan menentukan apa yang akan dilakukannya. Kedua, konflik antara orang-orang atau seseorang dalam masyarakat. Konflik jenis ini disebut konflik sosial yang biasanya berupa konflik tokoh, dalam kaitannya dengan permasalahan sosial. Masalah-masalah sosial merupakan masalah yang kompleks. Oleh karena itu, jika manusia tidak dapat segera mencari jalan keluarnya dapat menimbulkan konflik. Ketiga,konflik antara manusia dengan alam. Konflik jenis ini sering disebut konflik alamiah yang biasanya muncul tatkala tokoh tidak dapat menguasai atau memanfaatkan serta membudayakan alam sekitar sebagaimana mestinya (Sayuti, 2000:42).
Selanjutnya, disamping terdapat adanya konflik, dalam bagian tengah plot cerita didapatkan pula adanya komplikasi dan klimaks. Komplikasi merupakan perkembangan konflik permulaan, atau konflik permulaan yang yang bergerak dalam mencapai klimaks, sedangkan klimaks merupakan titik intensitas tertinggi komplikasi, yang darinya titk hasil cerita akan diperoleh dan tak terelakkan.
Komplikasi dalam cerita memiliki fungsi penting karena tanpa komplikasi yang cukup konfliknya akan menjadi lebih lambat dan kurang merangsang, sehingga kemungkinan-kemungkinan yang diharapkan pun sulit terwujudkan.Komplikasi bagi seorang pengarang berfungsi untuk mengendalikan bagaimana secara berangsur-angsur pengarang itu mempertinggi intensitas naratifnya, dan dengan demikian menyiapkan pembaca untuk menerima benturan yang penuh pada klimaksnya. Dapat pula dikatakan secara agak berlebihan bahwa komplikasi dan konflik yang berhasil dibangun guna mencapai klimaks merupakan ukuran kepiawaian seorang pengarang dalam membangun dan menyajikan karya prosa fiksinya.
Alur bagian akhir terdiri dari segala sesuatu yang berasal dari klimaks menuju pemecahan (denoument) atau hasil ceritanya. Dalam membentuk cerita seorang pengarang diharapkan mengikuti kaidah-kaidah pengaluran (plotting tertentu).

                       
Kaidah-kaidah alur dalam hubungan ini lebih merupakan generalisasi yang diambil oleh kenyataan-kenyataan praktis yang umum dilakukan oleh penulis-penulis besar sepanjang zaman dalam membentuk alur.
1.      Kemasukakalan
Plausibilitas (kemasukakalan) merupakan satu diantara kaidah-kaidah yang penting yang mengatur alur dalam fiksi. Tentu saja kemasukakalan dalam kaitan ini merupakan kemasukakalan yang dimiliki atau dibatasi dalam dan oleh cerita itu. Suatu cerita diakatakan masuk akal apabila cerita itu memilki kebenaran, yakni benar bagi diri cerita itu sendiri.
2.      Kejutan (surprise)
Di samping masuk akal, cerita harus memberikan kejutan tertentu. Kejutan itu sendiri dalam keseluruhan cerita dapat berfungsi bermacam-macam misalnya untuk memperlambat tercapainya klimaks atau sebaliknya untuk mempercepat terjadinya klimaks.
3.      Suspense
Suspense adalah kaidah yang mengatur alur. Artinya,alur cerita yang baik hendaknya menimbulkan suspense,yakni ketidaktentuan harapan terhadap hasil suatu cerita. Dalam kaitan ini, suspense melibatkan kesadaran terhadap kemungkinan-kemungkinan dan idealnya masalah yang berkenaan dengan kemungkinan tersebut.
4.      Keutuhan
Di samping ketiga hal yang sudah disebutkan di atas,salah satu tuntunan yang terpenting bgi plot adalah keutuhannya. Jenis plot apapun yang memilki bagian awal, tengah, dan akhir yang benar dan mengikuti kaidah-kaidah kemasukakalan, kejutan, dan suspense harus tetap memiliki keutuhan. Masalah spesifik yang berkenaan dengan keutuhan suatu plot cerita biasanya timbul dalam suatu karya fiksi yang relatif panjang.


Seperti tampak pada pembahasan di atas, fungsi plot dalam keseluruhan struktur cerpen dapat menjadi sarana terpenting yang menciptakan keutuhan. Dalam mengorganisasikan peristiwa-peristiwa menjadi awal, tengah, akhir, penulis menyatakan pada atau menemukan dalam bahan mentah pengalaman, sehingga pengertian tatanan atau urutan tersebut merupakan suatu hal yang dimaksud dengan keutuhan dalam suatu karya seni. Disamping itu dalam kaitan ini, perlu pula disadari bahwa pengaluran dalam suatu cerita bukanlah suatu proses yang mekanis. Alur/plot sangat penting untuk mengekspresikan makna suatu karya fiksi, baik makna yang bersifat muatan, actual meaning, maupun makna yang bersifat muatan, actual meaning, maupun makna yang bersifat niatan, intentional meaning.
Melalui alur penulis mengorganisasikan bahan mentah pengalaman-pengalamannya, dan cara penulis mengorganisasikan pengalaman tersebut memberi tahu banyak kepada kita tentang makna pengalaman itu baginya (Sayuti, 2000:55).
            Alur merupakan jiwa tragedi,sesunggunya dapat dikatakan pula bahwa boleh jadi alur merupakan jiwa fiksi (Aristoteles).
            Jika ditinjau dari segi penyusunannya peristiwa atau bagian-bagian yang membentuknya, dikenal adanya  beberapa jenis alur, yaitu
1.      Alur kronologis atau progresif. Dalam plot kronologis awal cerita benar-benar merupakan awal, tengah merupakan benar-benar tengah, dan akhir merupakan benar-benar akhir. Hal ini berarti bahwa dalam alur kronologis, cerita dimulai dari ekposisi, lalu komplikasi dan klimaks yang berawal dari konflik, dan berakhir pada pemecahan (denoument)
2.      Alur regresif atau flash backtracking atau sorot balik. Di dalam alur jenis ini awal cerita bisa saja merupakan akhir, demikian seterusnya: tengah dapat merupakan akhir dan akhir dapat merupakan awal atau tengah.
3.      Alur murni kronologis atau murni regresif. Dalam kenyataanya, baik kronologis maupun regersif sering divariasikan dalam sebuah cerita. Sementara teknik regresif atau sorot balik yang dipakai di dalamnya pun bermacam-macam, misalnya dengan teknik cakapan tokoh, mengenang masa lalu tokoh, atau dengan teknik-teknik lain yang dimungkinkan seperti solilokui. Mimpi, dan monolog interior.

Jika ditinjau dari segi akhir cerita dikenal adanya alur terbuka dan alur tertutup.Di dalam plot tertutup, pengarang memberikan kesimpulan cerita kepada pembacanya, sedangkan dalam plot terbuka cerita sering dan biasanya berakhir pada klimaks, dan pembaca biasanya berakhir pada klimaks, dan pembaca dibiarkan menentukan apa yang akan menjadi penyelesaian cerita: akhir cerita dibiarkan menganga. Di dalam plot tertutup, pembaca berada di bawah wibawa pengarang, hak pembaca disudutkan pada satu arah yang ditunjukan oleh pengarang. Artinya kesimpulan yang diambil pembaca terhadap cerita yang dihadapinya harus mengikuti isyarat-isyarat yang juga telah disampaikan pengarang dalam tubuh cerita.
Jika ditinjau dari segi kuantitasnya, dikenal adanya alur tunggal dan alur jamak. Suatu cerita dapat dikatakan mempunyai alur tunggal apabila cerita tersebut hanya mengandung sebuah alur dan alur itu bersifat primer (utama). Alur tunggal biasanya terdapat dalam cerpen. Sementara sebuah cerita dikatakakan memiliki alur jamak apabila cerita itu memiliki lebih dari sebuah alur.
Jika ditinjau dari segi kualitasnya, dikenal adanya alur rapat dan alur longgar. Sebuah cerita dikatakan memiliki alur rapat apabila alur utama itu tidak memiliki celah yang memungkinkan untuk disisipi alur lain. Sebaliknya, cerita dikatakan memiliki alur longgar apabila ia memiliki kemungkinan untuk disisipi alur lain. Hanya saja dalam kaitan ini, perlu disadari bahwa dalam cerita yang beralur longgar biasanya sisipan alur lain, yang biasanya merupakan sub alur, berfungsi untuk mengedepankan alur utamanya, di samping itu jika alur sisipan itu dibuang, cerita utamanya akan tetap berjalan tanpa gangguan yang berarti.

PEMBAHASAN
Cerpen karya Phutut Ea yang berjudul bunga dari ibu adalah sebuah cerpen yang tema sebuah kisah Sosial (Kekeluargaan) yang didalamnya menceritakan  kasih sayang ibu terhadap anaknya. Berikut adalah analisis khusus mengenai alur yang digunakan dalam cerpen tersebut.

A.    TAHAPAN ALUR       
Tahapan alur dalam cerpen terdiri dari awal, tengah. Berikut pemaparan tahapan alur dalam cerpen Bunga dari Ibu
1.      Tengah     :          
Pada penceritaan awal dikisahkan cerita tokoh Aku yang saling mengirim tanda kabar kepada ibunya lewat bunga, karena jarak rumah nya jauh dari ibunya. Pesan lewat bunga itu terbukti ampuh, di saat bunga yang diberi dari ibunya itu bunganya jatuh, ibunya sedang sakit flu. Demikian pula bunga yang diberikan anaknya kepada ibunya, menandakan keadaan anaknya. Bagian tengah dalam sebuah cerpen ini dipandang sebagai awal cerpen. Bagian tengah cerpen biasanya berisi ekposisi (pengenalan), konflik, komplikasi dan klimaks. Berikut akan kami paparkan bagian-bagian tersebut.
Ekposisi atau pengenalan dalam cerpen berjudul Bunga dari Ibu adalah saat paragraf pertama diceritakan dalam cerpen. “Aku tidak boleh terlalu sering mengunjungi ibu karena terlalu banyak biaya, maka ibu memberikan sebuah pot berisi tanaman bunga. Katanya jika ingin mengetahui keadaan ibu maka lihat saja bunga itu. Lalu bunga itu kurawat dan kusayangi dengan baik-baik.” Dalam penggalan cerita tersebut penulis mengenalkan tokoh aku dan Ibu yang menjadi tokoh awal dalam cerpen ,dalam alur cerita tersebut dijelaskan  tokoh aku (anak) tinggal berjauhan dengan ibunya, tetapi karena jauh dan biaya tokoh Ibu melarang tokoh aku (anak) untuk mengunjunginya, maka sebagai gantinya ibunya memberikan sebuah pot guna sebagai firasat bila anaknya ingin mengetahui keadaannya, maka ia harus melihat keadaan bunga itu.
Konflik dalam cerpen ini muncul ketika tokoh aku menemukan tanaman dari ibunya terlihat rontok bunganya, seperti mau layu. Konflik awal ini ditemukan dalam penggalan “Dalam perjalanannya, tanaman bunga itu memang bisa mengatakan keadaan ibu kepadaku. Suatu saat aku melihat beberapa kuntum bunga jatuh, dengan segera aku mengangkat telepon, memastikan keadaan ibu. Ternyata ibu sedang sakit flu. Ketika suatu pagi kulihat beberapa daunnya yang masih hijau rontok, aku mendapati kabar bahwa ibu sedang bersedih karena seorang pencuri telah memasuki rumahnya dan membawa lari televisi kesayangannya”. Konflik yang diceritakan adalh konflik ibunya dengan lingkungan, sehingga menimbulkan berupa firasat rontoknya bunga pada tanaman milik Ibu.
Komplikasi atau rangsangan dalam cerita ini adalah ketika tokoh aku juga ingin memberikan bunga untuk ibunya sebagaimana ibunya memberikan bunga untuknya agar masing-masing bisa mengetahui kabar melalui bunga itu. Hal tersebut terdapat dalam penggalan “Belajar dari itu semua, ketika aku pulang, aku menanam sebatang tanaman bunga tepat di samping jendela kamar ibu. Ibu tersenyum saat aku bilang, “Bu, pohon ini akan mengatakan kepada ibu bagaimana keadaanku. Di luar dugaanku, pohon bunga yang kutanam itu benar-benar memberi isyarat pada ibu tentang apa yang sedang kuhadapi”. Penggalan cerpen tersebut bisa dikatakan komlikasi karena dari kejadian tersebut, menimbulkan konflik  yang merangsang untuk timbulnya penyelesaian.
Klimaks atau puncak konflik dalam cerpen ini adalah ketika tokoh aku hamil dan berniat menggugurkan janin dikarenakan tokoh kekasihnya yang bernama “Mas Rustam” tidak mau bertanggung jawab. Ibunya langsung menelpon tokoh aku karena mendapat firasat bunga yang diberi oleh anaknya (tokoh aku) terlihat layu dan hampir mati. Tetapi tokoh aku mengatakan tidak ada apa-apa dengan dirinya, padahal selama ini tidak ada rahasia antara ia dan ibunya. Hal tersebut terdapat dalam penggalan “Sewaktu aku sedang dipromosikan naik jabatan, ibu menelepon untuk menanyakan keadaanku. Lalu, aku pura-pura bertanya mengapa ibu bisa meneleponku pagi-pagi benar. Ibu bilang, pohon bunga yang kutanam terlihat segar dan banyak bunga yang sedang mekar. Sewaktu aku diputus cinta oleh Randy, ibu juga meneleponku, ada banyak bunga dan daun yang rontok sehingga ibu resah. Terakhir, ketika aku sedang berpikir keras untuk memutuskan apakah aku harus menggugurkan kandunganku karena Mas Rustam, kekasihku yang baru, ternyata sedang mendapatkan tugas ke luar kota dalam waktu yang agak lama dan dia terganggu dengan keadaanku yang sedang mengandung, ibu juga menelepon. Ibu bertanya, “Kamu sedang tertimpa masalah? Pohon yang kamu tanam terlihat layu.” Ketika aku sudah mengambil keputusan untuk menggugurkan bayiku dan di sebuah malam Mas Rustam menelepon dari luar kota dengan membawa kabar buruk, ia harus menikahi anak bosnya karena hamil, pagi harinya ibu datang dengan pesawat paling pagi. “Ibu khawatir sekali, pohon bungamu tadi terlihat seperti mau mati.”
Pemecahan masalah (denoument) dalam cerpen ini terletak di bagian akhir cerita. “Suatu hari tanaman bunga dari ibu seperti layu. Aku sangat cemas dan beregegas pergi ke rumah ibu, saat kutanya bagaimana keadaan Ibu, ia mengatakan baik-baik saja. Aku kecewa saat tanaman bunga dariku sudah dibuang oleh ibu. Katanya, tanaman bunga itu tidak bisa menjadi patokan keadaanku. Esoknya saat aku pulang ke rumah, aku segera mencabut tanaman bunga dari ibu. Dalam hati aku berkata, setiap orang boleh punya rahasia”. Penggalan sinopsis diatas menceritakan akhir dari tanaman bunga yang masing-masing dimiliki oleh tokoh aku dan ibu. Bunga yang tokoh aku berikan kepada ibu dibuang karena menurut ibu bunga itu tidak bisa memberikan kabar keadaan tokoh aku dengan tepat, dan sebaliknya tokoh aku pun mencabut tanaman bunga yang tokoh ibu berikan.
2.      Awal         :
Diceritakan bahwa tokoh aku berasal dari keluarga menengah, orang tuanya bercerai dengan baik-baik semenjak ia lulus SMA. Bapak dan Ibunya berbeda agama tetapi mereka hidup dengan damai. Setelah mereka bercerai anak tetap berhubungan dekat dengan ayah dan ibunya walaupun mereka sudah berbeda rumah lagi.

3.      Akhir        :
Suatu ketika bunga yang diberi ibu seperti akan mati. Tokoh aku sangat khawatir dan segera saja memesan tiket untuk menengok ibunya. Sampai di rumah ibunya kaget dengan kedatangan anaknya. Anaknya pun bertanya untuk memastikan apakah ibunya ada masalah. Dengan santai ibunya menjawab dia tidak apa-apa. Dan dia berkata bunga itu sudah tidak bisa memastikan keadaan masing-masing, karena waktu itu saat bunga yang diberi anaknya layu, ibunya memastikan dan anaknya menjawab tidak apa-apa. Dari situ anaknya juga mencabut bunga yang diberi ibunya, ia tahu ibunya mungkin menyimpan rahasia seperti dirinya. Dalam hati tokoh aku berkata, setiap orang boleh punya rahasia.

B.     Kaidah Alur
Kemasukakalan (Plausibilitas)
Cerpen ini bercerita tentang tanaman bunga yang bisa memberikan pertanda  kabar antara ibu dan anak. Meskipun hal tersebut sangat jarang ditemukan dalam kehidupan nyata ( zaman modern saat ini manusia menggunakan alat teknologi sebagai media komunikasi jarak jauh),namun  demikian hal tersebut bisa diceritakan penulis secara masuk akal dalam cerita ini.

Kejutan (suprise)
Surprise  pertama dalam cerpen ini adalah ketika tokoh aku hamil dan harus menggugurkan kandungannya, karena tokoh Mas Rustam sebagai kekasihnya tidak mau bertanggung jawab dan menikah dengan orang lain. Surprise yang kedua adalah tokoh ibu tiba-tiba menelpon tokoh aku dan mengabarkan bahwa tanaman bunga yang diberikan oleh tokoh aku tiba-tiba layu dan hampir mati. Tokoh Ibu sangat mengkhawatirkan tokoh aku.Surprise yang ketiga adalah ketika tanaman bunga yang ibu berikan tiba-tiba layu dan hampir mati. Tokoh aku sangat cemas, tapi ternyata saat tokoh aku datang ke rumah ibu , Tokoh ibu baik-baik saja
Suspense (penundaan)
Suspense dalam cerita ini adalah ketika tokoh aku hamil dan ingin menggugurkan kandungannya, ia terbayang masa-masa kecilnya bersama ayah dan ibunya. Ia dibesarkan dari orang tua yang berbeda agama. Saat SMA orang tuanya cerai, akhirnya ia tinggal bersama ibunya. Ia tumbuh saat zaman orde baru, dimana saat terjadi kerusuhan politik di berbagai daerah. Saat itu ia menjadi aktivis mahasiswa. Ibunya selalu mendukung dan menemaninya dalam situasi apapun. Semua kisah masa lalunya bersama ibunya dan ayahnya mulai kecil hingga dewasa diceritakan d bagian tengah cerpen ini, sehingga menjadi penundaan cerita saat tokoh aku berbohong pada ibunya dan mengatakan tidak ada apa-apa dengan dirinya (tokoh aku)


Keutuhan
     Cerpen ini memiliki kaidah keutuhan dengan baik karena memiliki bagian awal, tengah, akhir. Selain memilki bagian awal, tengah, dan akhir yang benar cerpen ini juga mengikuti kaidah-kaidah kemasukakalan, kejutan, dan suspense sehingga cerpen ini dikatakan memiliki keutuhan.

C.    Jenis Alur yang digunakan
             Berdasarkan segi penyusunannya cerpen “Bunga dari Ibu” karya Phutut Ea memiliki alur regresif (terdapat flash back). Dalam tengah cerpen ini terdapat alur flashback tokoh aku dalam mengenang masa lalu bersama ibu dan ayahnya.  Alur cerita dalam cerpen ini  disusun dari awal cerita, cerita mulai berjalan, menceritakan kembali kisahnya, cerita mulai memuncak dan penyelesaiannya terdapat di akhir.
            Berdasarkan segi akhir cerita, penulis menggunakan plot tertutup dalam akhir ceritanya. Kerena penulis memberikan sebuah kesimpulan untuk mengakhiri cerpen ini. Kesimpulan tersebut yaitu saat tokoh aku mencabut bunga pemberian dari Ibunya, kemudian ia berkata dalam hati “Setiap orang boleh punya rahasia”. Berikut adalah dialog batin tokoh aku dalam penggalan akhir cerpen yang menyimpulkan bahwa penulis mengakhiri cerpennya dengan sebuah kesimpulan “Aku kembali diam. Esok harinya, aku langsung pulang. Sampai di rumahku, tanpa berpikir panjang, aku mencabut bunga yang ditanam ibu. Dalam hati aku berkata, setiap orang boleh punya rahasia.”
            Berdasarkan segi kualitasnya, alur yang digunakan dalam cerpen ini adalah alur berplot longgar. Disebut alur berplot longgar karena jalan ceritanya masih memungkinkan untuk disisipi oleh cerita lain. Misalnya bagaimana nasib ibu dan tokoh aku setelah masing-masing tokoh sama-sama sudah tidak memiliki tanaman bunga atau di tengah cerita saat tokoh aku hamil dan pacarnya tidak mau bertanggung jawab bisa disisipi oleh cerita lain tentang masa lalu tokoh aku dengan mas Rustam, dll.
                
A.    KESIMPULAN
 Membaca cerita dalam cerpen ini, membuat pembaca mengikuti alur cerita yang kadang mengejutkan, menyentuh hati dan sentimentil seperti yang disajikan dari khas penulis. Alur cerpen  yang digunakan dalam cerpen ini adalah alur campuran, karena dengan digunakannya alur campuran, hal tersebut membuat cerita sebuah cerpen tetap mengalir  apa adanya tanpa membuat bosan pembaca. Awal cerita dipaparkan dengan begitu menarik yang  menjelaskan tentang betapa uniknya hubungan tokoh “aku” dan tokoh “ibu”  kemudian tokoh aku menceritakan masa lalunya dan kemudian di tutup dengan pemaparan kisah selanjutannya yang dibahas diawal cerita.
                             
DAFTAR PUSTAKA
Sayuti A, Suminto. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media
Ea, Phutut. 2006. Kupu-Kupu Bersayap Gelap. Yogyakarta: INSIST Press


1 komentar:

  1. ikut melansirkan rehal buku ke: http://blog.insist.or.id/insistpress/archives/898

    BalasHapus